Sekapur Sirih

Setiap dekade menyodorkan tantangan dan peluang yang berbeda bagi dunia akademik. Tantangan terbaru yang muncul dalam disiplin ilmu komunikasi dibawa oleh gelombang perubahan yang menyertai kehadiran teknologi digital. Tak hanya lingkungan fisik yang berubah karena munculnya otomasi dan perangkat digital yang merasuk dalam wilayah kehidupan sehari-hari, tetapi domain pokok disiplin seperti lingkungan dan bisnis media, tradisi jurnalisme, mode-mode kampanye dan pemasaran, serta format dan konten hiburan juga mengalami perubahan secara masif dan radikal.

Akibatnya, untuk menjaga agar kelak lulusan tetap relevan dengan perkembangan mutakhir, departemen harus melakukan banyak adaptasi. Jika dunia akademik mencakup tiga matra – yakni penelitian, pengajaran, dan pengabdian masyarakat – maka di ketiga matra itulah adaptasi perlu dilakukan oleh sebuah departemen. Melalui tiga matra ini mahasiswa diajak dan diasah agar mampu menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang era digital.

Seperti pada periode sebelumnya, departemen melakukan penyesuaian dan perubahan di tingkat kurikulum dan silabus pengajaran. Beberapa kuliah yang menyentuh langsung tema-tema digital ditawarkan ke mahasiswa. Di tingkat silabus pun, para staf pengajar departemen menyelipkan topik-topik digital.

Untuk matra penelitian dan pengabdian, penyesuaian juga dilakukan. Isu metode digital menjadi salah satu topik penelitian yang dijalankan oleh para pangajar yang melakukan penelitian secara individual maupun secara kolektif. Isu-isu efek digitalisasi dalam berbagai aspek komunikasi dijelajahi dalam proses-proses penelitian. Tak terlewat, di matra pengabdian pun, topik literasi media digital menjadi salah satu pilihan tematik ketika departemen mengunjungi publik untuk melakukan pengabdian.

Perubahan dan adaptasi ini dilakukan serentak di dua level program studi, yakni Program Studi S-1 dan Program Studi S-2. Derajat perubahan itu juga digarap di dua level pengasahan kapasitas mahasiswa, yakni kapasitas praktis serta kapasitas konseptual dan teoritis.

Namun perlu dicatat, adaptasi dan perubahan yang dilakukan Departemen Ilmu Komunikasi (DIKOM) bukanlah membuang total yang lama dan menggantikannya dengan yang baru sama sekali. Digitalisasi adalah sebuah proses yang memiliki aspek rangkap yang saling bertaut dalam disiplin ilmu komunikasi: kontinuitas dan perubahan. Seraya melakukan adaptasi, DIKOM juga memelihara sejumlah aspek karena gejala dan teori yang muncul di era digital juga memiliki elemen-elemen lama.

Pada akhirnya, perubahan dan adaptasi yang dilakukan DIKOM bisa dimetaforkan sebagai sebuah perjalanan yang terus-menerus. Pada satu titik, ketika ada percabangan jalan karena perubahan jaman pengelola dan staf pengajar di DIKOM akan melakukan evaluasi ke belakang dan sekaligus menatap ke depan. Dalam perjalanan itu, kita berusaha mengubah tantangan menjadi peluang.

Dr. Kuskridho Ambardi, M.A.
Ketua Departemen Ilmu Komunikasi
Universitas Gadjah Mada

Sekapur Sirih

Setiap dekade menyodorkan tantangan dan peluang yang berbeda bagi dunia akademik. Tantangan terbaru yang muncul dalam disiplin ilmu komunikasi dibawa oleh gelombang perubahan yang menyertai kehadiran teknologi digital. Tak hanya lingkungan fisik yang berubah karena munculnya otomasi dan perangkat digital yang merasuk dalam wilayah kehidupan sehari-hari, tetapi domain pokok disiplin seperti lingkungan dan bisnis media, tradisi jurnalisme, mode-mode kampanye dan pemasaran, serta format dan konten hiburan juga mengalami perubahan secara masif dan radikal.

Akibatnya, untuk menjaga agar kelak lulusan tetap relevan dengan perkembangan mutakhir, departemen harus melakukan banyak adaptasi. Jika dunia akademik mencakup tiga matra – yakni penelitian, pengajaran, dan pengabdian masyarakat – maka di ketiga matra itulah adaptasi perlu dilakukan oleh sebuah departemen. Melalui tiga matra ini mahasiswa diajak dan diasah agar mampu menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang era digital.

Seperti pada periode sebelumnya, departemen melakukan penyesuaian dan perubahan di tingkat kurikulum dan silabus pengajaran. Beberapa kuliah yang menyentuh langsung tema-tema digital ditawarkan ke mahasiswa. Di tingkat silabus pun, para staf pengajar departemen menyelipkan topik-topik digital.

Untuk matra penelitian dan pengabdian, penyesuaian juga dilakukan. Isu metode digital menjadi salah satu topik penelitian yang dijalankan oleh para pangajar yang melakukan penelitian secara individual maupun secara kolektif. Isu-isu efek digitalisasi dalam berbagai aspek komunikasi dijelajahi dalam proses-proses penelitian. Tak terlewat, di matra pengabdian pun, topik literasi media digital menjadi salah satu pilihan tematik ketika departemen mengunjungi publik untuk melakukan pengabdian.

Perubahan dan adaptasi ini dilakukan serentak di dua level program studi, yakni Program Studi S-1 dan Program Studi S-2. Derajat perubahan itu juga digarap di dua level pengasahan kapasitas mahasiswa, yakni kapasitas praktis serta kapasitas konseptual dan teoritis.

Namun perlu dicatat, adaptasi dan perubahan yang dilakukan Departemen Ilmu Komunikasi (DIKOM) bukanlah membuang total yang lama dan menggantikannya dengan yang baru sama sekali. Digitalisasi adalah sebuah proses yang memiliki aspek rangkap yang saling bertaut dalam disiplin ilmu komunikasi: kontinuitas dan perubahan. Seraya melakukan adaptasi, DIKOM juga memelihara sejumlah aspek karena gejala dan teori yang muncul di era digital juga memiliki elemen-elemen lama.

Pada akhirnya, perubahan dan adaptasi yang dilakukan DIKOM bisa dimetaforkan sebagai sebuah perjalanan yang terus-menerus. Pada satu titik, ketika ada percabangan jalan karena perubahan jaman pengelola dan staf pengajar di DIKOM akan melakukan evaluasi ke belakang dan sekaligus menatap ke depan. Dalam perjalanan itu, kita berusaha mengubah tantangan menjadi peluang.

Dr. Kuskridho Ambardi, M.A.
Ketua Departemen Ilmu Komunikasi
Universitas Gadjah Mada